Sabtu, 29 Juni 2013

Sinopsis I Miss You ep. 17-2

Di ruang kerjanya,Tae Joon mengamati foto Kang Hyung Joon, kartu, dan sepeda plastik. Nampak dari wajahya kalau ia mencoba mencari hubungan antara ketiganya.


Di kamar, menemani Hyun Joo yang tidur, Mi Ran membaca ulang dokumen Harry yang telah ia tanda tangani. Namun pikirannya bukan pada pinjaman yang ia dapatkan, tapi kejadian aneh yang dilihatnya siang ini. Ada Harry yang tak diduga masuk ke kamar Hyun Joo dan menangis tersedu-sedu. Ia juga teringat pada Jung Woo yang katanya belum bisa melupakan Soo Yeon, tiba-tiba muncul dari lantai atas bersama Zoe.
Ia pun mulai meraba apa yang sedang terjadi. Dan ia terkesiap saat menyadari kalau Zoe adalah Soo Yeon, satu-satunya gadis yang ada di pikiran Jung Woo. Dan jika Zoe adalah Soo Yeon, maka Kang Hyung Joon adalah ..
Tiba-tiba suaminya masuk. Buru-buru ia menyembunyikan dokumen kredit itu ke bawah selimut Hyun Joo. Tae Joon bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi hari ini? Mi Ran menjawab tidak. Karena jika ia memberitahu kejadian di kamar Hyun Joo, ia harus memberitahu tujuan Harry datang ke rumah ini (meminjamkan uang padanya). Saat ditanya tentang Jung Woo, Mi Ran mengatakan kalau Jung Woo belum pulang.
Tae Joon memberitahu kalau Harry bersedia menyediakan tempat tinggal di Jepang, maka ia menyuruh Mi Ran dan Ah Reum untuk membawa Hyun Joo ke Jepang. Tentu saja Mi Ran (yang punya butik) keberatan. Apakah suaminya ingin mengusir Hyun Joo pergi? “Bukankah lebih aman jika ada dia di dekat kita semua?”
Tae Joon menduga kalau pria berbaju hitam itu adalah Hyung Joon, yang berarti Hyung Joon sudah pernah melihat wajah ibunya dan tahu kalau ibunya masih hidup. Jadi Tae Joon yakin Hyung Joon pasti akan muncul lagi.
Jung Woo yang sudah pulang mendengar kata-kata ayahnya. Ayahnya juga berkata kalau mereka akan mendapatkan uang itu kembali dan akan menguncinya (di rumah sakit jiwa) kembali.
Jung Woo yang mendengar gemerisik langkah ayahnya keluar, buru-buru berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya, dan menjadi anak baik, pura-pura memberi salam pada ayahnya.
Seperti yang ia duga, Tae Joon muncul dari ruang sebelah. Jung Woo pun pura-pura kaget dan hanya tersenyum sopan saat Mi Ran menyindirnya sudah pulang cepat. Ia pun menelan kemarahan yahnya yang menyuruhnya menjaga rumah dengan baik kalau ingin mendapat makan.
Ia pun naik ke lantai dua, namun turun kembali saat ayah dan Mi Ran masuk ke kamarnya masing-masing. Dan ia pun masuk ke kamar Hyun Joo.
Ia mengambil sidik jari Hyun Joo. Pada wanita yang sudah tertidur lelap itu, ia berjanji akan mempertemukan wanita itu pada keluarganya jika ia menemukannya.
Jung Woo menaruh kembali bunga plastik yang terlepas dari tangan Hyun Joo dan menggumamkan kata bayi, kata yang sering diucapkan Hyun Joo dan tersenyum membayangkan betapa senangnya wanita itu jika ia dapat menemukan keluarganya.
Hyung Joon memainkan Magic Castle, lagu favorit Soo Yeon. Teringat saat itu Soo Yeon mendendangkan lagu itu dan berkata padanya, “Jika kau sudah bisa memainkan lagu itu dengan dua tanan, mainkan untukku.”
Dan Hyung Joon pun memainkan Magic Castle dengan kedua tangannya.
Soo Yeon masuk ke kamar ibunya yang tidur bersama Eun Joo. Ia membenahi selimut Eun Joo dan ibu. Ia menyesal karena ia belum sempat mengembalikan sepatu ibu sampai sekarang. Namun ia berjanji kalau ia akan kembali dengan cepat.
Jung Woo menemui seniornya dan meminta untuk memeriksa sidik jari yang tadi malam ia dapatkan. Tapi detektif Joo tak melirik barang yang diberikan Jung Woo, malah bertanya apakah Jung Woo dan Soo Yeon akan menikah? Dan detektif Joo seakan ngambek, tak mau memberitahu hasil penyelidikan yang ia dapatkan atas permintaan Jung Woo kemarin.
Seperti menambah efek dramatis, alarm Detektif Joo berbunyi dengan suara wanita yang memintanya untuk minum jamu. Dan Detektif Joo meminum jamu kuat dan mengeluh kalau berbeda dengan orang lain, ia tak dapat mengeluarkan energi yang dimiliki hasil dari jamu itu.
Saat atasannya datang, detektif Joo baru memberitahukan hasil penyelidikannya. Nama asli Harry Borison ternyata memang Moon Hae Joon dan diadopsi oleh sebuah keluarga yang memiliki peternakan di Lyon Perancis sejak umur 5 tahun.
Jung Woo menduga kalau Hyung Joon mengambil identitas Moon Hae Joon dan berpura-pura menjadi Harry Borrison. Saat atasannya bertanya siapakah Kang Hyung Joon, Jung Woo menjelaskan kalau Kang Hyung Joon adalah Harry Borrison yang sekarang mereka kenal. Ia yang membawa Soo Yeon 14 tahun yang lalu dan pergi bersama Michelle Kim.
“Apakah ada hubungannya dengan penculikanmu 14 tahun yang lalu?” duga atasannya. Jung Woo pun juga berpikir seperti itu, walau mungkin juga sebuah kebetulan juga mungkin terjadi.
Detektif Joo juga memberitahukan tentang identitas Sekretaris Yoon yang misterius, karena identitasnya semua palsu. Dan jika ada orang yang melakukan itu, berarti ada dua kemungkinan : orang itu penjahat, atau orang itu sedang dikejar-kejar oleh penjahat.
Jung Woo meminta agar Sekretaris Yoon tak segera ditangkap karena jika ia ditangkap secara terang-terangan, maka ia langsung melarikan diri.
Ketiga polisi itu tak menyangka kalau ada seseorang yang mengintip mereka. Soo Yeon mengambil foto Jung Woo dan tersenyum memandangnya, “Han Jung Woo yang  29 tahun, ia sangatlah keren.”
Dan seperti kata-katanya pada ibu tadi malam, ia juga berkata hal yang sama, “Jung Woo ya.. aku juga akan kembali dengan cepat. Bahkan aku sekarang sudah merindukanmu.”
Jung Woo yang tak sadar telah diambil fotonya oleh Soo Yeon, tetap berdiskusi. Ia merasa hubungan Kang Hyung Joon dan ayahnya adalah kunci dari semuanya.
Atasan Jung Woo mengungkit masalah gambar safety box yang dikirimkan oleh Jung Woo dan berkata kalau pengamanannya sangatlah canggih. Dan Jung Woo meminta agar atasannya mendatangkan ahlinya dan membuka kotak itu saat rumah sedang kosong. 
Jung Woo mendapat telepon dari Detektif Ahn yang menguntit ayahnya pergi. Detektif Ahn memberitahukan kalau ayahnya dan Sekretaris Yoon sudah mulai bergerak.
Ternyata kepergian Tae Joon dimanfaatkan oleh Mi Ran untuk membawa lari Hyun Joo. Ia tak mempedulikan suaminya lagi dan ingin pergi dari rumah. Sepertinya ia memiliki rencana sendiri. Dan Ah Reumlah yang disuruh membawa Hyun Joo untuk bersembunyi di butik Bellez untuk sementara waktu.
Untuk menenangkan Hyun Joo yang merasa tak nyaman dengan lingkungan baru, Ah Reum memberikan bunga plastik yang sering ia buat. Namun Hyun Joo tak melihat bunga itu karena ada yang lebih menarik perhatiannya. Kalung kunci yang tergantung di leher Ah Reum.
Ia langsung menarik kalung Ah Reum hingga Ah Reum menjerit kesakitan. Tapi ia tak peduli. Ia teringat pada Joon-nya. Saat Ah Reum ingin mengambil kembali kalung itu, Hyun Joo tak mau karenaia ingin memberikannya pada Joon-nya, “Aku akan memberikannya pada Hyung Joonku.”
Soo Yeon kembali ke rumah Hyung Joon dan mencarinya. Tapi tak ada siapapun di situ, kecuali botol minum yang tergeletak di meja dan jas Hyung Joon yang tersampir di sofa. Namun saat ia masuk ke kamar Hyung Joon, ia terkejut karena melihat semuanya berantakan. Foto mereka berdua terjatuh dan rusak.
Hampir saja ia keluar kamar, jika ia tak melihat ada tombol pintu di dinding tempat fotonya dulu terpasang. Ia memencet tombol itu dan terkejut saat dinding itu terbuka. Ia kaget melihat ada ruang rahasia di dalam kamar Hyung Joon.
Kamar itu sekarang sudah berantakan. Foto ibu Hyung Joon pun juga terjatuh di lantai. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah sebuah papan dengan berbagai berita koran yang melaporkan tentang pembunuhan dan perkosaan atas Lee Soo Yeon dengan pelakunya adalah Kang Sang Deuk.
Yang berarti walau ia tak pernah menceritakan kisahnya, Harry sudah mengetahui apa yang telah terjadi padanya selama 14 tahun ini.
Dan juga foto Jung Woo sedang bersama Ah Reum, dan foto keluarga Jung Woo.
Yang berarti yang Hyung Joon katakan selama ini memang bohong. Ia sudah tahu siapa orang yang membuat kakinya seperti itu.
Soo Yeon sangat shock. Ia melihat foto ibu Hyung Joon dan kalung yang pecah dan ia meraba kalung yang sedang ia kenakan.
Terdengar langkah Hyung Joon mendekati ruangan itu. Soo Yeon panik. Dan ia lebih panik lagi saat melihat pintu rahasia itu tertutup. Ia memanggil-manggil Harry untuk membukakan pintu itu kembali, tapi sia-sia. Pintu tak terbuka. 
Kemudian terdengar suara Mi Ran, membuat Soo Yeon kembali terkejut. Ternyata suara itu berasal dari CCTV  yang difokuskan dari satu kamera yang ada di ruang tengah. Soo Yeon melihat layar CCTV itu penuh kebingungan.
Harry meminta maaf karena rumahnya sedikit berantakan karena ia sendirian di rumah ini. Mi Ran pun bertanya, “Memang Soo Yeon ada dimana? Apakah sedang bersama dengan Jung Woo?”
Wajah Hyung Joon mengeras, menyadari kalau Mi Ran sudah tahu samarannya. Dan seakan Mi Ran berada di atas angin, ia kembali berkata apakah Hyung Joon kesal karena Soo Yeon sekarang bertemu dengan Jung Woo?
“Kang Hyung Joon,” kata Mi Ran dan tersenyum, “Aku ingat pernah melihatmu beberapa kali saat kau kecil dulu.”
Soo Yeon mengawasi kamera CCTV yang memperlihatkan Mi Ran yang berkata manis pada Hyung Joon. Ia tahu suaminya memang kejam, tapi ia tak menyangka kalau Tae Joon bisa sekejam itu pada seorang anak kecil.
Hyung Joon yang tak ingin diingatkan dengan masa lalunya bertanya apa maksud Mi Ran datang kemari.
Ternyata kedatangan Mi Ran adalah untuk mengembalikan Hyun Joo padanya, karena Tae Joon berencana untuk mengungsikan Hyun Joo ke Jepang, “Sudah cukup buruk membuatmu terpisah dengannya selama 14 tahun, dan aku tak tega untuk membuat kalian terpisah semakin lama lagi.”
Hyung Joon mengingatkan Mi Ran kalau Tae Joon adalah suaminya, tapi Mi Ran berkata kalau hubungannya dengan Tae Joon sudah selesai, “Ia menjadi tak normal setelah Sekdir Nam tewas. Jung Woo pun sudah kembali ke rumah. Jadi tak ada lagi yang tersisa untukku. Aku memang berencana meninggalkannya setelah bisnisku berhasil.”
Hyung Joon hanya bisa tertawa mendengar rencana Mi Ran. Mi Ran bertanya apakah Hyung Joon memang membunuh seseorang?

Soo Yeon yang masih melihat monitor CCTV juga menunggu jawaban Hyung Joon. Hyung Joon menjawab dengan bertanya balik, “Dengan kakiku yang seperti ini, aku tak dapat berjalan dengan benar, jadi mana mungkin aku dapat membunuh seseorang?”
Jawaban itu melegakan Mi Ran, begitu pula dengan Soo Yeon. Mi Ran lega karena itu berarti Tae Joon hanya menakut-nakuti dirinya agar tetap tinggal di samping Tae Joon. 
Hyung Joon pun menawarkan uang pada Mi Ran sebagai rasa terima kasih karena akan membawa ibunya padanya. Mi Ran langsung menerima rasa terima kasih itu, “Aku tak akan serakah. Berikanlah aku secukupnya dan sisakan untukmu untuk hidup.”
Hyung Joon pun menyetujuinya dan memuji Mi Ran pintar, karena jika Tae Joon mengetahui kalau tiba-tiba Mi Ran memiliki banyak uang, tentunya akan membuat Tae Joon curiga.
Mi Ran tersenyum senang dan tiba-tiba bertanya, “Lee Soo Yeon tak  tahu, kan, kalau ibumu adalah orang yang bertanggung jawab pada apa yang terjadi padanya? Itu juga rahasia, kan?”
Soo Yeon sangat terkejut mendengarnya.
Begitu pula Hyung Joon yang dari sudut matanya melihat kamera CCTV dan mengatakan kalau Mi Ran tak seharusnya mengatakan hal itu. Tapi ia kembali berwajah manis lagi dan mengajak Mi Ran untuk minum anggur untuk merayakan berpindahnya Mi Ran dari kubu Tae Joon ke kubunya, “Tanteku sangat menyukainya.”
Mi Ran menebak kalau tante Hyung Joon ini adalah perawat Hye Mi. Tapi Hyung Joon tak menjawabnya, hanya mengatakan kalau tantenya itu senang berenang setelah meminum anggur itu. Mi Ran bertanya dimanakah Perawat Hye Mi sekarang.
Hyung Joon tak menjawab, hanya memberikan gelas anggur padanya. Ia juga menuang anggur untuk dirinya sendiri. Mereka bersulang dan Mi Ran pun meminumnya hingga habis. Sedangkan Hyung Joon hanya mendekatkan bibirnya ke bibir gelas anggur yang ia pegang.
Soo Yeon hanya bisa berteriak mencegah Mi Ran meminum anggur itu. Tapi sia-sia karena tak ada yang mendengarnya.
Hyung Joon kembali melirik pada kamera CCTV, seakan menantang Soo Yeon. Mi Ran yang tak menyadari apa yang akan terjadi padanya, memuji anggur itu enak. Ketika Hyung Joon menuangkan anggur itu lagi, ia kembali meminumnya.
Mi Ran mengulang pertanyaannya tentang keberadaan perawat Hye Mi. Dan Hyung Joon pun menjawab kalau ia mengirim tantenya itu untuk pergi liburan karena tantenya itu terus menerus ingin memberitahukan tentang ibunya pada Soo Yeon, “Kau akan segera menemuinya.”
Tanpa pretensi apapun, Mi Ran malah tersenyum mendengar kata-kata Hyung Joon dan meminum anggurnya kembali. Hyung Joon tersenyum melihat gelas anggur Mi Ran tandas dan berkata, “Ia akan senang bertemu denganmu.”
Soo Yeon terduduk, shock karena menyadari siapa saja orang yang dibunuh oleh Hyung Joon.
Detektif Ahn menguntit mobil yang dikendarai Sekretaris Yoon. Tapi Sekretaris Yoon menyadari kalau ia dikuntit. Saat di persimpangan, saat ada truk besar di hadapannya, ia mengambil kesempatan membelok tajam melewati truk besar itu.
Detektif Ahn yang tak siap, tak sempat membelok, sehingga ia melewatkan kesempatan itu dan tak bisa mengikuti mobil Sekretaris Yoon karena terhalang truk besar itu.
Ternyata Jung Woo juga menguntit di belakang, dan untungnya masih bisa mengikuti mobil ayahnya.
Tae Joon kesal karena belum melihat Harry di tempat yang dijanjikan. Sekretaris Yoon berkata walaupun begitu, Tae Joon harus menunggu Harry untuk meminta tandatangannya agar Harry bersedia memundurkan jangka waktu pinjamannya. Ia pun menelepon Harry dan menyapanya, “Ya, kami sudah sampai.”
Kecurigaan Tae Joon muncul saat ia melihat sepeda Harry yang disandarkan di dinding. Dan di dinding itu ada gambar ibu anak. Sama seperti gambar di kamar 302. Sama seperti gambar yang pernah dilihat Tae Joon di salah satu tempat persembunyian Hyung Joon.
Ia langsung menoleh pada Sekretaris Yoon, namun Sekretaris Yoon mengulurkan handphonenya, “Ini Harry Borrison.”
Tae Joon menatap Sekretaris Yoon dan kemudian menatap gambar di tembok itu. Tapi ia belum mencurigai sekretarisnya karena ia langsung mengambil handphone itu, namun langsung menyapa Harry dengan panggilan, “Kang Hyung Joon.”
Di suatu tempat, Hyung Joon mengatakan kalau Tae Joon akan menerima balasan atas dosa yang telah ia lakukan dengan perlahan-lahan, “Aku sedikit terlambat, kan, Han Tae Joon?”
Sekretaris Yoon bersiap-siap dan memakai sarung tangan. Begitu pula Jung Woo yang mengintai dari luar, juga bersiap-siap dengan memakai sarung tangan juga.
Tae Joon yang tak menyadari kalau di belakang Sekretaris Yoon mulai mengangkat sebuah tongkat kayu. Jung Woo yang melihatnya langsung membuka pintu.
Dan Tae Joon tak sempat menoleh setelah Hyung Joon berkata, “Jangan menoleh ke belakang. Kau  sudah terlambat,” Sekretaris Yoon memukulkan tongkat kayu itu pada Tae Joon hingga Tae Joon pingsang.
Jung Woo yang tak sempat mencegahnya langsung memukuli Sekretaris Yoon. Tapi kali ini Sekretaris Yoon hanya diam dipukuli. Tak hanya pasrah, ia bahkan tersenyum saat dipukuli Jung Woo, membuat Jung Woo menyadari kalau mungkin ada yang lain yang berada dalam bahaya.
Detektif Joo terkejut melihat kedatangan Kakek Choi yang ternyata datang atas permintaan Jung Woo. Detektif Joo mengatakan kalau pembunuh berantainya telah tertangkap, tapi menurut Jung Woo mereka belum menangkap pembunuh berantai yang sebenarnya.
Mereka menemui Jung Woo yang memperhatikan dari ruang samping, memperhatikan atasannya menginterogasi Sekretaris Yoon. Detektif Joo memberitahu Jung Woo kalau ayahnya sudah sadar dari pingsan.
Saat diinterogasi, Sekretaris Yoon tak mau mengatakan apapun, malah mengatakan kalau Jung Woo adalah target selanjutnya. Atasannya menyuruh Sekretaris Yoon untuk berhenti berpura-pura gila, “Kau yang membunuh Kang Sang Chul, Kang Sang Deuk dan Nam Yi Jung juga, kan?”
Sebelum menjawab Sekretaris Yoon melihat jam, dan kemudian mengiyakan. Saat ditanya alasannya, Sekretaris Yoon menatap ke kaca tempat Jung Woo berdiri dan berkata, “Lee Soo Yeon, menyuruhku untuk melakukannya.”
Kakek Choi yang menyadari ada yang tak beres yang terjadi bertanya apda Jung Woo di manakah Soo Yeon sekarang. Jung Woo langsung menelepon Soo Yeon. Tapi handphone Soo Yeon tak aktif.
Sekretaris Yoon menjawab kalau ia menerima uang imbalan untuk pembunuhan itu. Ia merekam pembicaraannya dengan Soo Yeon saat Soo Yeon meminta bantuannya, dan rekaman itu ada di laci mobilnya.
Jung Woo meminta seniornya untuk menelepon Eun Joo, untuk bertanya apakah Soo Yeon ada di rumah, dan juga meminta seniornya untuk melacak handphone Soo Yeon.
Sekretaris Yoon menjelaskan alasan Soo Yeon melakukan hal itu karena ia ingin membunuh semua orang yang telah membuatnya seperti itu, “Kang Sang Deuk, Kang Sang Chul, Nam Yi Jung, Han Tae Joon dan juga Han Jung Woo.”
Mendengar itu, Jung Woo ingin mencari Soo Yeon. Tapi ternyata handphonenya berbunyi. Soo Yeon sudah menghubunginya.
Kakek Choi memintanya untuk merekam pembicaraan  mereka, karena rekaman itu dapat digunakan sebagai bukti, “Rekamlah.”
Jung Woo menatap kedua temannya dan menjadikan pembicaraan itu terdengar oleh semuanya dan merekamnya kemudian dengan nada biasa ia bertanya pada Soo Yeon, “Soo Yeon ah.. dimana kau sekarang?”
“Han Jung Woo, saat aku berpura-pura tak mengenalmu, kau seharusnya membiarkannya. Aku telah menghapus Lee Soo Yeon dengan susah payah.”
Jung Woo terkejut dengan kata-kata Soo Yeon yang aneh. Ia bertanya kembali dimanakah Soo Yeon sekarang. Tapi Soo Yeon tak menjawab, malah berkata lagi dengan anehnya, “Aku hanya ingin mengatakan padamu kalau semuanya sudah terlambat. Semua orang yang mengingat kejadian masa lalu itu, kuharap semuanya mati. Aku bahkan dapat berbuat yang lebih buruk lagi.”
Jung Woo berteriak memanggil Soo Yeon, tapi pembicaraan itu telah terputus. Kakek Choi bertanya pada Jung Woo apakah itu benar-benar suara Soo Yeon.
Dan Jung Woo seperti bisa menduga apa yang telah dilakukan Hyung Joon.
Hyung Joon telah merekam suara Soo Yeon saat Soo Yeon datang ke kamar Hyung Joon pada hari itu. Dan Hyung Joon merekayasa kata-kata Soo Yeon, memotong kata-katanya, dan membolak-balik kata-katanya sehingga menjadi apa yang tadi didengar Jung Woo di telepon.
Jung Woo segera pergi dari ruang pemeriksaan, ingin mencari Soo Yeon yang sekarang ada dalam bahaya. Seniornya mencoba untuk mencegahnya karena sekarang Jung Woo lah dalam bahaya karena Sekretaris Yoon mengatakan kalau Jung Woo adalah target Soo Yeon selanjutnya.
Jung Woo mengatakan kalau bukan Soo Yeon pelakunya. Tapi Detektif Joo yang berpegang pada kenyataan yang ada, mengatakan kalau Lee Soo Yeon adalah pelakunya. Jung Woo mengatakan kalau Detektif Joon sudah gila karena tak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi, “Ia telah menjebak Soo Yeon!”
“Kalau dia bukan pelakunya, maka kau harus membuktikannya!” bentak Detektif Joo dan menyuruh Jung Woo untuk kembali.
Tapi Jung Woo tahu, sia-sia saja meyakinkan seniornya yang tak akan percaya, apalagi dia menduga Soo Yeon sekarang dalam bahaya. Maka dia mengambil pistol dari dalam jaket Detektif Joo dan berkata, “Sudah kubilang kalau semua itu tak benar. Jangan pernah menyentuhnya! Tak ada seorang pun yang boleh mengganggunya!”
Dan Jung Woo pun meninggalkan detektif Joo, teman-temannya. Semuanya.
Di kamar rahasia, Soo Yeon duduk meringkuk, mematung. Pikirannya kembali di malam itu, saat ia menulis perasaan hatinya di buku harian yang katanya akan mereka gunakan bersama-sama,
“Jung Woo-ya, aku menerima banyak hal pada Harry, sementara aku tak pernah memberikan apapun padanya. Aku mendapat makanan, baju. Aku juga dapat bersekolah dan tinggal di tempat yang nyaman. Aku tak dapat membayar semua kebaikannya, tapi aku ingin membayar hutang cinta(?). Aku berjanji kalau tak akan lama.
Han Jung Woo, kau yang mengajak Lee Soo Yeon –anak seorang pembunuh- untuk berteman. Aku juga,  tak akan mempedulkani kau anak siapa. Han Jung Woo, Dan jika kita bertemu lagi, janganlah kita pernah terpisahkan dan kita akan saling mencintai.”
Tiba-tiba pintu rahasia terbuka. Pelan-pelan, Soo Yeon keluar. Walau sudah melihat dari CCTV, tapi ia merasa terkejut saat melihat dengan mata kepala sendiri, Mi Ran tergetak di lantai. Takut-takut Soo Yeon mendekati tubuh Mi Ran, mencoba membangunkannya.
Dan ia berteriak panik saat melihat ada darah di tangannya. Rupanya ia menyentuh bagian tubuh Mi Ran yang mengeluarkan darah. Ia panik dan menyingkir, mengambil tasnya dan mencoba menelepon Jung Woo.
Terdengar lagu Magic Castle, membuat Soo Yeon terlompat kaget. Handphone-nya terjatuh. Lagu itu bukan dari handphonenya. Ia mencari-cari asal suara itu. Ternyata suara itu berasal dari laptop Hyung Joon di atas meja.
Ia membuka laptop itu, dan terlihat Hyung Joon memainkan lagu Magic Castle (sama seperti yang terlihat di malam sebelumnya). Dan sepertinya memang direncanakan, karena Hyung Joon menatap ke kamera, pada Soo Yeon yang melihatnya sekarang, dan ia berkata, “
“Lee Soo Yeon, mulai sekarang kau bukanlah anak seorang pembunuh. Tapi kau adalah pembunuh. Tak ada jalan untuk keluar dari masalah ini. Kang Sang Chul, Kang Sang Deuk, Nam Yi Jung .. dan wanita yang ada di hadapanmu. Polisi percaya kalau kau telah membunuh mereka semua. Jadi, bertahanlah walau kau merasa hal itu tak adil.
Soo Yeon gemetar, panik melihat tangannya yang berlumuran darah. Ia mencoba menghilangkan darah itu dengan cara mengelap tangan ke bajunya, tapi percuma. Noda itu tak bisa hilang. Seakan tahu kalau Soo Yeon akan panik, ia Hyung Joon meneruskan, “Ini adalah hukumannya karena tak pernah mencintaiku sekalipun.”
Seakan diprogram dari awal, laptop itu langsung mati. Soo Yeon menjerit bingung.
Di lift ia mencoba menelepon Jung Woo. Tapi ia terlalu gemetar, hingga handphonenya terjatuh. Putus asa, ia tak mencoba lagi. Ia hanya terpekur di dalam lift.
Tapi ternyata beberapa saat kemudian  Jung Woo meneleponnya. Soo Yeon langsung mengangkat handphonenya, dan terdengar suara Jung Woo yang khawatir dan menanyakan dimana dirinya sekarang.
Soo Yeon langsung mengatakan kalau bukan ia pelakunya. Dan Jung Woo menenangkannya kalau ia tahu bukan Soo Yeon yang melakukannya. Jung Woo bertanya lagi dimana Soo Yeon berada dan Soo Yeon menjawab kalau ia ada di rumah Harry, “Jung Woo.. apa yang harus kulakukan? Ada orang yang mati.”
Jung Woo terkejut, “Kau sekarang sedang bersama siapa?”
“Sendiri, aku sekarang sendirian.”
“Bagaimana dengan Harry? Dimana orang itu?”
“Aku tak tahu. Ia menghilang,” Soo Yeon terus menerus menangis, berkata kalau Harry benar-benar telah membunuh orang, “Semuanya tak masuk akal. Kupikir yang ia katakan dulu adalah bohong. Apa yang harus kulakukan?”
Jung Woo menyuruh Soo Yeon untuk meninggalkan rumah itu segera. Dan saat Jung Woo tiba di gerbang, Soo Yeon juga sudah keluar dari rumah. Jung Woo memeluk Soo Yeon yang histeris, mencoba menenangkannya.
Di belakang ternyata seniornya dan timnya membuntutinya, membuat Soo Yeon bertambah panik. Ia gemetar memeluk lengan Jung Woo. Jung Woo yang menyadari kalau mereka berdua tak bisa lepas, menodongkan pistol ke arah seniornya, “Maafkan aku.”
Semua polisi juga menodongkan pistol ke arah mereka berdua. Walau Jung Woo memohon untuk membiarkan mereka pergi, seniornya meminta Jung Woo untuk menjatuhkan pistolnya, “Ia adalah tersangka pelakunya. Kau bisa berada dalam bahaya.”
“Apakah kau tak tahu alasanku melakukan ini?!” bentak Jung Woo frustasi. “Jika kau ingin menangkap Soo Yeon, berikan padaku bukti yang jelas kalau ia memang dia pelakunya.” Jung Woo mengambil handphonenya dari saku dan melemparkannya pada detektif Joo, “Suara Soo Yeon telah direkayasa.”
Detektif Joo mengerti dan meminta mereka mengikutinya ke kantor polisi untuk membuktikan semuanya. Tapi Jung Woo tak mau karena itulah yang diinginkan oleh Kang Hyung Joon. Masih menodongkan pistol ke arah teman-temannya, Jung Woo menggenggam tangan Soo Yeon dan berkata padanya, “Lee Soo Yeon, kali ini jangan pernah lepaskan tanganku.“
Meninggalkan para polisi yang tak tega memaksa Jung Woo, Jung Woo pun membawa pergi Soo Yeon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar